KRITIK DAN JAWAB
TERHADAP
EFRAIM BAR NABBA BAMBANG NOORSENA S.H
Oleh: Teguh Hindarto STh
Membaca tulisan
Bambang Noorsena S.H, kami merasa terbeban untuk memberikan tanggapan berupa
Kritik dan jawab. Keterdorongan kami karena Bambang Noorsena kerap menuduh bahwa
pihak yang mengusulkan untuk mengganti kata ALLAH menjadi YAHWEH dan Allah
menjadi Eloim sebagai pihak "Kaum kurang cerdas" dan "Orang yang
tidak memenuhi standar ilmiah".
Baiklah, jika keilmiahan dan kecerdasan menjadi ukuran, kami dari pihak kaum
kurang cerdas dan kurang memenuhi standar ilmiah mengajar Bambang Noorsena untuk
menanggapi kritik dan jawab kami secara ilmiah pula. Dalam alinea kedua, Bambang
Noorsena mengatakan bahwa nama YAHWEH pernah dipuja bersama dewi Asyera di
Samaria. Dengan menganalogikan kasus tersebut, Bambang Noorsena hendak
mempertahankan bahwa meski nama Allah pernah disembah secara politeis zaman pra
Islam, akan tetapi nama itu tetap layak sebagai sesembahan yang benar. Tanggapan
kami: Penemuan inskripsi kuno di Kuntilet Ajrud dan Khirbet Qom (One God, One
Lord: Christianity in World of Religious Pluralism, Andre D Clark dan bruce W
Winter, 1992) bukan argumen valid untuk mempertahankan ALLAH. Kasus penemuan
inskripsi kuno di Nablu hanya menunjukkan adanya proses sinkritisme diantara
umat YAHWEH. Sinkritisme demikian kerap ditemui diIsrael (Bandingkan 2 Taw
15:1-19, 1 Raja 11:1-7, Yer 7:16-20) Namun nama YAHWEH tetap diakui pada mulanya
sebagai pencipta (Mazmur 121:1-2) dan Bapa Surgawi (Yesaya 64:8). Bagaimana
dengan ALLAH? adakah sumber referensi Yudaik (Torah, Talmud, Misnah dan
lain-lain) yang mengatakan bahwa ALLAH adalah nama sang pencipta dan Bapa
disurga? Jelas sudah ada perbedaan latar belakang. Kasus inskripsi di Kuntilet
Ajrud dan Khiebet Qom merupakan sinkritisme, sedangkan kasus penggunaan nama
ALLAH di Mekah oleh orang Kristen maupun Islam merupakan adoptisme dari nama
berhala atau dewa air menjadi nama sang pencipta.
Pada alineaketiga, Bambang Noorsena lagi-lagi mendasarkan pendapatnya pada
statement manusia, yaitu pendapat orang muslim dan Kristen Arab yang mengatakan
bahwa Allah adalah nama sang Pencipta langit dan bumi (Surah Jatsiyah 45:22 dan
Wamus Al Kitab Al Muqodas, karya Butros Abdul Mali, 1981:107) sungguh
menggelikan. Inikah yang disebut kriteria cerdas dan ilmiah itu? Yaitu banyak
mengutip buku dan pendapat manusia yang tidak ada kolerasinya dengan Firman
Tuhan??
Pada alinea kelima, Bambang Noorsena lagi-lagi berasumsi bahwa kata ALLAH itu
cognate dengan El, Eloah, Eloim (Bahasa Ibrani) dan Elah (Bahasa Aram) serta
Alaha (Bahasa Syiria)
Tanggapan kami: El berarti kuat. Dalam bahasa Arab diterjemahkan il. Dari bentuk
dasar El menjadi Eloah atau ilah yang berarti sesembahan. Baik Eloah, Elah, ilah,
Alaha bukanlah nama diri melainkan istilah Timur Tengah bagi yang disembah. Jadi,
Eloah itu cognate dengan kata Ilah dan bukan Allah. ALLAH itu nama Ilah (Qs
20:14) yaitu ilah orang Arab (Qs 27:91) yang berdiam di Mekah (Qs 106:3).
Sebagai bukti bahwa ALLAH itu nama dan bukan gelar, terbukti bahwa ALLAH tidak
dapat dibuat jamak. ilah bertuk jamaknya alihah. Eloah bentuk jamaknya Eloim.
Apakah bentuk jamak dari ALLAH?? Demikian pula YAHWEH sebagai nama diri tidak
dapat dibuat jamak. Sekali lagi, baik YAHWEH maupun ALLAH ini dua oknum roh dan
kuasa yang berbeda. Sadarilah ini sebagai suatu fakta penting agar kita jangan
gegabah menganti nama sang pencipta yaitu YAHWEH menjadi ALLAH ( dalam Alkitab
LAI, penggantian ini kurang lebih ada 297 kali).
Pada alinea ke enam, Bambang Noorsena menyebutkan bahwa istilah ALLAH berasal
dari Al dan ilah atau The God. Dengan kata lain sesembahan yang benar.
Tanggapan kami: Tidak mungkin ALLAH berasal dari Al dan ilah. Hal ini menyalahi
kaidah tata bahasa. Al merupakan definite article yang dalam istilah Inggris
The. Sedangkan ilah dalam istilah Inggris berarti God atau Tuhan. Namun
masalahnya, tidak mungkin Al atau ilah melebur menjadi kata baru ALLAH. Kalau
hal ini diabaikan berarti Al dan Kitab harus mengalami perubahan menjadi Altab.
Lalu Al dan Barokah menjadi Alrokah. ALLAH adalah nama Al ilah atau Ha Eloah
atau The God orang Arab yang berdomisili di Mekah. Sedangkan YAHWEH adalah
nama Al - ilah atau Hal Eloah atau The God of Israel yang ujudnya Roh (Yohanes
4:24) yang berdiam di Surga (1 Raj. 8:43) yang berkarya melalui Firman-Nya yang
menjadi daging yang benama YESUA HAMASIAH (Yohanes 1:1-14). Terjemahan 1
Korintus 8:4 dalam bahasa Arab rancu dan yang menyesatkan. Seharusnya dalam
bahasa Arab berbunyi: "la ilaha Al ilahu ahad" atau dalam bahasa
Ibrani:"lo eloah aval ha eloah hu ekad" atau dalam terjemahan
Indonesia:"dan sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Esa...."
Konteks Tuhan atau sesembahan yang Esa ini harus kita kembalikan pada teks
aslinya (Ibrani) dari Ulangan 6:4 yang berbunyi: "Syema Yisrael; YAHWEH
Eloheinu YAHWEH Ekhad yang berarti, dengarlah hai Israel; YAHWEH itu Eloim (Tuhan)
kita, YAHWEH itu Esa. Jadi Esa itu adalah Al ilah atau Ha Eloah yang bernama
YAHWEH dan bukan ALLAH.
Dalam alinea enam sampai tujuh, Bambang Noorsena dengan optimisme tinggi
mengatakan bahwa:
1. Nama YAHWEH tidak turun dari langit.
2. Akar kata Elah atau Eloah dari El (yang maha kuat) dan alah (sumpah) dengan
mengutip Holy Bible Scofield References, Rev. C.I. Scofield, 1945.
Tanggapan kami:
1. Nama YAHWEH berasal dari Dia Sang Pencipta yang memperkenalkan diri-Nya pada
Musa dan Israel. Menurut Keluaran 3:15 Nama YAHWEH adalah sesembahan nenek
moyang Israel turun temurun. Penyampaian nama diri itu disertai tanda-tanda
hebat dan dasyat berupa kilat dan guruh (Keluaran 3:18-23; 34:6-8)
2. Memang benar bahwa akar kata Elah atau Eloah atau ilah berasal dari El dan
alah atau ilah berasal dari El dan alah atau il dan alla. El atau il artinya
yang Maha kuat, sedangkan alah atau allah berarti sumpah (1 Sam 14:24; Qs 68:10)
Namun, apakah benar bahwa ALLAH berasal dari El dan alah atau il dan alah??
nampaknya Tidak!!! Jika Bambang Noorsena memegang teguh etimologi kata ALLAH
berasal dari Al dan ilah berarti sudah kontradiksi dengan dalil etimologi dan
filologi yang kami kemukakan. Sebab Al tidak sama dengan El atau il. Al adalah
definite article (the) sedangkan El atau il berarti yang Kuat.
Dalam Alinea 8-9 Bambang Noorsena mengutip inskripsi Zabad dan Ummul Jimmal dan mengatakan bahwa nama Allah telah dipanggil sebelum pra Islam dan oleh orang2 Kristen Syria terlepas dari konsep paganitis. Ditambahkan lagi dengan tulisan Spencer Tirmingham dalam bukunya Christianity Among The Arabs in pre Islam Times, 1974. hal 74 yang mengatakan bahwa sejalan dengan konsili Efesus 431, di tanah Arab sudah ada uskup sendiri dengan nama Abdellas atau Abdullah.
Tanggapan kami:
Digunakannya kata ALLAH oleh orang Kristen Arab bukan jaminan valid kesahihan
nama ini sebagai pengganti Eloim maupun YAHWEH. Perlu dipertanyakan mengapa dan
lewat sumber apa mereka mengadopsi kata ALLAH itu. Tampaknya jika ditelusuri
bahwa tanah Arab merupakan wilayah subur pelarian bidat Kristen non chalcedonian
(Bambang Ruseno Utomo 1993:130-131) terbukti bahwa banyak klaim dan tuduhan
miring Al Quran banyak diarahkan pada sekte2 Kristen di Arab. Tampaknya dewa
ALLAH ini telah dikenal di Babilon dan mulai bermigrasi 5000 tahun lalu ke
Mekah (Steven Van Natan, 1995:1) Fakta ini dibenarkan pula oleh Roberts Morey
melalui bukunya The Islamic Invasion, 1992, yang menyebutkan bahwa Allah
adalah dewa bulan. Kami melihat penggunaan ALLAH oleh orang Kristen Arab
lebih dikarenakan ketidaktahuan asal muasal nama Allah itu. Kedua, Karena proses
adopsi dan kontektualisasi yang berlebihan.
Pada alinea kesebelas, Bambang Noorsena bersikukuh bahwa para rasul menuliskan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Didalam tulisannya mereka tidak mempertahankan YAHWEH.
Tanggapan kami: Perlu diketahui, bahwa Yesus dan murid2Nya adalah orang Yahudi. Tentu mereka tidak berbahasa Arab, Aram atau Yunani tetapi bahasa Yahudi. Para murid Yesus hanyalah nelayan dan pekerja biasa. Dari mana mereka mengetahui bahasa Yunani secanggih itu?? Mereka menuliskan dalam bahasa Ibrani, lalu naskah itu disalin dalam bahasa Yunani oleh pengikutNya untuk kepentingan penginjilan lintas budaya dengan bahasa Yunani lingua franca. Penterjemah naskah ini mengacu pada terjemahan Septuaginta yang sudah mengganti nama YAHWEH menjadi KURIOS dan THEOS. Penggantian nama YAHWEH menjadi KURIOS dan THEOS lebih disebabkan penerapan berlebihan orang Yahudi terhadap bunyi Keluaran 20:7 (Jangan menyebut nama YAHWEH Eloimmu dengan sembarangan). Septuaginta adalah produk Yudaisme, Yudaismelah yang mula-mula mengganti nama YAHWEH menjadi KURIOS lewat terjemahan Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani yang disebut teks Septuaginta. Para penterjemah Perjanjian Baru adalah orang2 yang terikat konteks zamannya, sehingga mereka tidak berani mengucapkan nama itu. Alkitabiahkah mereka?? Tidak !! Ada tertulis dalam 1 Tawarikh 16:8: "Ho du la YAHWEH, yaqiru bi sy yemo" (Bersyukurlah kepada YAHWEH dan panggilah namanya") Jelas bukan, bahwa nama YAHWEH harus dipanggil?
Adakah seharusnya dalam Perjanjian Baru nama YAHWEH itu? Ada!! Perhatikan ucapan nubuat Yesaya 40:3 yang dikutip kembali oleh Matius 3:3 yang berbunyi: "Badmidbar panuderek YAHWEH...." demikianlah salah satu contoh dalam Perjanjian Baru, ada tertulis nama YAHWEH itu.
Demikianlah tanggapan kami. Nyatalah bahwa argumentasi untuk mempertahankan nama ALLAH bukan berasal dari kitab suci melainkan dari teori-teori yang mengatasnamakan keilmiahan dan objektivitas, sehingga akhirnya mengalihkan kita dari pokok yang paling mendasar dari semua percakapan, yaitu: Bisakah nama Sang Pencipta diterjemahkan? Sederhana saja sebetulnya. Namun karena gengsi dan kemalasan, akhirnya kita harus konsekuen mempertahankan nama nama yang salah itu sebagai ganti nama sesembahan (Eloim) yang benar yaitu YAHWEH (Yeremia 10:10 dan karena gengsi pula, semakin banyak teori bantahan dibangun, sehingga menjerumuskan kita dari kebenaran. Tanggapan ini kami tutup dengan perintah YAHWEH dari keluaran 23:13 yang berbunyi :"Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu, haruslah kamu berawas-awas, nama eloim lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu"