The Landscape of Ferry Djajaprana
“Bagi saya, hidup ini bagaikan sekadar meneguk segelas air minum dalam perjalanan. Saya
memandang hidup adalah suatu perjalanan yang harus kita nikmati dan syukuri....”
Self Portrait, 90x80 cm, Oil on Canvas, 2001 |
Demikianlah, karena hidup bagi Ferry Djajaprana adalah perjalanan, ia tak pernah berhenti menjalani perjalanan itu. Ia senantiasa menjalani hidupnya dan menghasilkan karya-karya lukisnya bagaikan air yang mengalir, terus berjalan dan bertualang dengan bebas, lepas, tanpa mau terkekang oleh aturan ataupun aliran tertentu. Ia pun menjelajahi pantai-pantai sekitar Jawa, be- berapa pulau di Kepulauan Seribu, bahkan sampai ke Nusakambangan, juga Madura, Bali, Sumatera, dan Kalimantan, untuk sekadar meneguk segelas air minum dari perjalanannya, yang kemudian dituangkannya dengan apik di atas kanvas. Tak cukup sampai di situ, ia pun menjelajah ke negeri yang lebih jauh, seperti Malaysia, Singapura, serta beberapa negara Teluk seperti Oman, Qatar, United Arab Emirates (UAE), Saudi Arabia dan Iran, yang tak lain sebagai bagian dari penikmatan dan rasa syukurnya atas hidup.
|
“Bagi saya, tujuan hidup memang acuan kita untuk beraktivitas, tetapi tahapan-tahapan dalam
mencapai tujuan pun harus kita nikmati pula....”
Ferry Djajaprana menganggap bahwa melukis adalah suatu panggilan. Pada saat suatu ide tiba-tiba datang ke
kepalanya di tengah perjalanan, ia langsung menuangkannya ke atas kanvas saat itu juga. Ia bisa berhenti di
lokasi atau obyek mana pun yang menggerakkan hatinya untuk mengabadikannya, dan ia terbiasa untuk
menyelesaikan lukisan itu saat itu pula, cukup dalam beberapa jam saja, tanpa mau menunda pemberian
sentuhan akhirnya di rumah. Jadilah dia seorang pelukis ‘jalanan’, pelukis on location. Itulah sebabnya di rumah,
di studio dan bahkan di mobilnya selalu tersedia kanvas kosong, lengkap dengan peralatan melukisnya, karena
ia tak pernah bisa memprediksi kapan inspirasi itu datang padanya.

Abra Creek, Dubai, 80x60 Cm, Oil on Canvas, 2001
Saat arus mengalir—in flow...—dalam tahapan setelah pembuatan warna dasar, adalah saat yang sangat
dinikmati Ferry, karena di saat itulah ia bisa merekam seluruh ekspresinya. Goresan kuas, bahkan terkadang
palet dan jarinya pun ikut bermain, menyatu dengan gerak hatinya yang tergoreskan di atas kanvas itu. Saat
itulah ia merasa bahwa melukis membuatnya mampu menyetimbangkan kerja otak kecil dan otak besarnya.
Dan rasa fresh dan lega yang diperolehnya setelah lukisan itu selesai, membuatnya selalu ingin dan ingin lagi
menikmati perasaan yang menakjubkan itu, hingga ia pun terus melukis sampai sekarang.
“Bagi saya, bagaikan air mengalir yang pada ujungnya akan sampai ke muara, demikian pula dalam
hidup kita akan kembali ke hadirat-Nya....”
Menurut Ferry Djajaprana, ‘dunia sini’ dan ‘dunia sana’ harus dibuat seimbang. Kendati memang ia menyadari,
tidaklah mudah memadukan sisi ‘vertikal’ dan ‘horisontal’ sekaligus, juga tidak mudah mencari point of
intersection antara kekekalan dan dunia sekarang. Kendati ia pun menyadari, banyak orang lebih tertarik dan
lebih mudah memikirkan ‘dunia sini’ atau ‘dunia sana’ daripada melakukan sesuatu dalam dua dunia itu
sekaligus.
Karena itulah, ia menganggap bahwa keseriusan kita tentang ‘dunia sana’ dapat ditunjukkan oleh keseriusan
kita untuk ‘dunia sini’, dan ia mencoba memikirkan ‘dunia sini’ di dalam konteks ‘dunia sana’. Sebab, apa yang
akan kita dapat di ‘dunia sana’ ditentukan oleh bagaimana kita mengelola hidup atau menyelesaikan tugas kita
di ‘dunia sini’. Itulah sebabnya, ia mencoba menampilkan kedua dunia itu dalam lukisannya.
Beragam tema—mulai dari figur, obyek, kehidupan sehari-hari, budaya, seni dan pertunjukan, seascape,
landscape, hingga yang imajinatif dan abstrak—dihasilkannya dalam rangka mengelola ‘dunia sini’-nya, sambil
mengekspresikan kepeduliannya kepada ‘dunia sana’, yang antara lain ditunjukkannya dalam beberapa lukisan
yang beraliran kaligrafi—seperti dalam lukisan Yahoo 1, Yahoo 2 dan Looking for Allah—atau lukisan obyek
berjudul Ca’bah in the Early Morning, An Nur and Stalactite & stalagmite yang menunjukkan keseriusannya untuk mengalir menuju ke ‘dunia sana’
tadi.
![]() |
![]() |
Stalactite and stalagmite, 60x50 Cm,Oil on
Canvas, 2001
An Nur, 80x60cm, Oil on Canvas,2001
“Dalam hidup ini saya mempunyai misi dan visi, tapi saya rela dan menerima sepenuhnya takdir
Ilahi....”
Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, Ferry Djajaprana yang lahir di Tegal, 4 Mei 1965 ini
sudah menyadari bakat melukis yang dimilikinya. Namun menyadari pula keterbatasan keluarganya yang tak mampu
memasukkannya ke sekolah melukis khusus, ia pun belajar secara otodidak dan selebihnya hanya belajar dari
sanggar lukis di sekolahnya. Dari situ ia mulai menunjukkan prestasi dengan menjuarai lomba lukis tingkat
kecamatan, di daerah asalnya, Tegal, Jawa Tengah. Dan takdir ternyata memang membukakan jalan baginya.
Sewaktu SMA, ia sempat mengelola Sanggar Pelangi, sanggar di sekolahnya, SMA I Bekasi, yang khusus
bergerak di bidang seni rupa, khususnya seni lukis. Saat itu mulailah ia berpameran bila ada event yang
diselenggarakan oleh Pemda Bekasi. Setamat SMA, memikirkan keluarga dan hari depannya nanti—ditambah
lagi masukan dari seorang pelukis jalanan yang ditemuinya di Pasar Blok M yang menceritakan kesulitan hidup
sebagai pelukis yang tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarganya—ia memutuskan untuk tidak
meneruskan sekolah ke bangku IKJ atau STSRI. Ia akhirnya memilih menekuni pendidikan komputer, yang tak
lain tujuannya agar ia bisa cepat bekerja, sehingga ia bisa membeli cat lukis impor yang harganya cukup
mengorek isi kantong.
Tampaknya pilihan itu tidak salah, dan pendidikan maupun pekerjaannya sekarang ternyata tak mengubah alur
kehidupan Ferry Djajaprana semula: menjadi seorang pelukis. Bahkan semua itu mendukungnya hingga ia
mampu mengunjungi berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri, serta belajar secara long distance dengan
pelukis Morgan Khoo dari Singapura (meninggal pada tahun 1994), saat ia tinggal di Dubai, UAE. Kini, sambil
menjalani hari-harinya sebagai pegawai tetap di Astra, hobi melukisnya bahkan semakin berkembang, sambil
juga aktif sebagai pengurus Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI) untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Ferry Djajaprana justru menggelar pameran pertamanya di Abu Dhabi, pada acara peringatan HUT
Kemerdekaan RI, tahun 1994. Selanjutnya di Indonesia pada tahun 1995 ia mengikuti pameran yang
diselenggarakan oleh Kedutaan Peru bekerja sama dengan UNESCO di World Trade Centre (WTC) Jakarta. Tahun
1996 dan 1997 mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh kelompok Seratus Pelukis Indonesia, bertempat
di Mal Mangga Dua Jakarta, Gedung Pusat Niaga-Pekan Raya Jakarta, dan Mal Daan Mogot Jakarta.
Sedangkan pada tahun 1998 ia mengikuti pameran bersama ASPI di Gedung Departemen Pariwisata, Seni dan
Budaya dan DC Gallery Jakarta. Selain itu, ia juga pernah ikut pameran bersama di Hilton Executive Club, Mal
Pondok Indah, Plaza Indonesia, Hotel Resor Lembah Hijau, Ciloto, Jawa Barat dan Hotel Carita Beach, Jawa
Barat. Selanjutnya, pada tahun 1999 ia mengikuti pameran lukisan di Hotel Hilton Jakarta, Hotel Carita Beach
dan DC Gallery Jakarta, serta Galeri Nusantara Jakarta. Sedangkan pada tahun 2000 ia menggelar pameran
lukisannya lagi di Hotel Hilton Jakarta.
![]() |
![]() |
Qeshm, 80x70cm, Oil on Canvas,
2001
Sharjah Dhow, 60x50 cm, Oil on Canvas, 2001
“Bagi saya, kesadaran dalam kehidupan ini sulit dilukiskan dengan kata-kata, lebih indah apabila diterjemahkan dalam lukisan,
dan akan lebih indah lagi apabila yang dilukis itu merupakan hasil penemuan sendiri, dialami dan dirasakan sendiri....”
Ketika fotografi—yang juga menjadi hobi Ferry Djajaprana ketika remaja—dirasakannya tidak mampu
memuaskan hasratnya untuk mengungkapkan keindahan karena memiliki banyak keterbatasan, terutama
outdoor photography yang tidak bisa dilakukan ketika cuaca/iklim kurang bersahabat, ia pun kembali
menerjemahkan keindahan yang dilihatnya dalam lukisan, dan ia menemukan kepuasannya di situ.
Lukisan-lukisan landscape (pemandangan alam) yang dihasilkannya adalah potret keindahan alam yang
sebenarnya, yang tak pernah dilewatkan Ferry dalam perburuan on location-nya. Sementara lukisan bertema
seascape (pemandangan laut/bahari) yang memakan porsi hingga 45 persen dari seluruh lukisannya, dibuat
Ferry atas obsesinya untuk menggerakkan perhatian para pembesar, baik dari kalangan pemerintah maupun
para hartawan, terhadap kehidupan kaum nelayan di negeri ini yang cukup ironis bila mengingat betapa
jayanya kehidupan nenek moyang kita dari hasil melaut dulu. Itulah sebabnya ia sering menyajikan pameran di
hotel-hotel, yang notabene sering dikunjungi para pembesar tadi.
Namun lebih dari itu, meskipun ia tidak menutup mata terhadap fenomena kekacauan yang melanda negerinya
tahun-tahun belakangan ini, Ferry merasa tak ingin ikut-ikutan membuat lukisan-lukisan bertema kritik sosial dan
kritik politik seperti banyak dihasilkan pelukis lain akhir-akhir ini. Ia merasa jatahnya cukup di lukisan-lukisan
bertema alam dan budaya saja, karena ia tak begitu tertarik dengan dunia politik yang menurutnya terlalu
absurd.
Alih-alih menggambarkan kritik sosial dan kritik politik dalam lukisannya, Ferry lebih suka mengungkapkan
pengalaman batinnya sendiri ke atas kanvas. Untuk yang satu ini, hasil perenungan dan pencerapannya akan
kehidupan maupun perasaan pribadi yang dialaminya cenderung ia tuangkan dalam lukisan bertema abstrak,
yang bisa diinterpretasikan apa saja oleh yang menikmatinya, tanpa ia sendiri perlu menjelaskan makna yang
sebenarnya.
Ferry Djajaprana optimis bahwa masa depan dunia lukisan di Indonesia cukup cerah. Buktinya, pada saat
krismon melanda segala segi kehidupan kita, pameran lukisan jalan terus dan ada saja pembelinya. Sementara
pelukis-pelukis di Indonesia juga cukup solid. Ia berharap para pelukis senior bisa membimbing yuniornya,
karena banyak para yunior yang secara kapabilitas mampu menghasilkan karya yang unlimited, tetapi
tersandung pada ketidaktahuan bagaimana cara mengadakan pameran lukisan. “Mereka butuh manajemen,
kalau memungkinkan kayaknya perlu ada manajemen pelukis...”
***
Akhirnya, Ferry Djajaprana berkata:
"Aku akan berjalan lagi
Mencari dan terus mencari
hidupku adalah perjalananku menuju-NYA...."
Januari, 2001
Veronica B Vonny