Kunjungi Sponsor kami


PANGGILAN RUMAH



Tanggal : 19 September 1999
Nama : Dendi Kadarsan
E-mail address : denditan@yahoo.com



Saya ingin membagi pengalaman ketika ada panggilan rumah.
Saat saya dinas malam di suatu klinik, sekitar pukul 03.00 pagi ada pasien datang meminta saya datang untuk memeriksa pasien. Saya penuhi, maklum dokter muda. Sampai di rumah pasien (untungnya tidak terlalu jauh dari klinik), si pasien tidak sakit, hanya pura-pura sakit karena anaknya sering mabuk. Akhirnya saya tinggalkan pasien itu setelah memberi tahu ke keluarga pasien. Si keluarga pasien tidak mau terima, dia tetap berkeyakinan bahwa ibunya sakit payah. Rupanya dia sedang mabuk.
Saya tetap pergi meninggalkan pasien itu, karena memang tidak ada indikasi medis yang mengharuskan saya melakukan tindakan apa-apa.
Sekonyong-konyong saya ditikam dari belakang, dengan reflek saya dapat menangkis serangan itu dan melarikan diri. Air susu dibalas air tuba.
Sejak kejadian itu, saya bersikeras untuk tidak meladeni panggilan rumah. Untungnya teman sejawat saya di klinik itu mendukung tindakan saya. Saya jadi heran ada orang yang berkomentar ada dokter yang tidak mau panggilan rumah, dikatakan tidak manusiawi. Saya hanya dapat berkomentar siapa yang akan bertanggung jawab bila ada kejadian buruk yang menimpa si dokter. Tentu dengan entengnya dia akan menjawab itu `kan risiko pekerjaan. Kalau begitu, boleh dong untuk memperkecil risiko itu saya menolak panggilan rumah, bukan begitu ?

Anda pengunjung ke :

sejak tanggal 1 Desember 1999

kembali ke Pengalaman 1