PANGGILAN MALAM
Tanggal : 12 Nopember 1998
Nama : Sumarsono Sastrowardoyo
E-mail address : ssastrow@rad.net.id
Saya bangun karena bunyi tilpun. Jam tangan saya menunjukkan jam 12 lebih. Siapa yang tilpun tengah malam begini.
" Hallo ".
" Hallo Singsang ini dari kantor seksi "
Singsang itu Dokter di Cina Kek.
" saya tadi rapat dengan pak kepala seksi, dengan pak kepala polisi, dengan pak kepala douane dan pak wedana ..." "
" Ada apa ! " saya bentak karena tengah malam begini saya tidak mau dengar laporan rapat pak seksi, pak polisi dsb.
" Begini Singsang baru saya ditilpun istri saya katanya anak saya sakit keras Singsang tolong saya saya takut ".
Saya sudah terlanjur bangun dan saya jawab saja:
" Baiklah ,tunggu saya di rumah sakit '. Saya lupa tanya rumahnya di mana. Saya ambil dia dengan mobil dari rumah sakit dan saya tanya:
" Ke mana?".
"Ke jurusan Pingkong Singsang dan kemudian ke kiri ".
Di Bangka sini yang ada 30% keturunan Cina semua kota mendapat nama Cina. Pangkal Pinang jadi Pingkong, Sungai Liat menjadi Liat Kong, Muntok menjadi Buntu. Juga nama penyakit seperti Malaria punya nama Cina, yaitu " Mun Piang", mun itu nyamuk dan piang itu penyakit jadi Mun Piang= Malaria. Jalannya gelap semua toko tutup dan hanya lampu mobil memberi penerangan jalan. Dekat pohon besar sebelah kiri ada jalan kecil tidak beraspal. Saya tanya :
" Mobil bisa lewat ?"
" Oh tentu Singsang saya tiap hari pakai mobil".
Rasanya jaraknya makin lama makin jauh dan saya sudah mulai gelisah, tengah malam begini dan kiri kanan jalan hanya hutan.
Tiba-tiba saya melihat lobang besar di tengah jalan, mobil tidak bisa terus.
" Katanya mobil bisa lewat" saya berkata dengan kesal.
" Tapi Singsang truk bisa lewat".
Hati saya mulai mendidih akan tetapi saya masih tahan.
" Saya jalan duluan ya Singsang. Di lampu itu rumah saya."
Saya menunggu dekat mobil sendirian dalam kegelapan di tengah-tengah hutan, hanya bintang-bintang di langit memberi penerangan sedikit. Saya pikir kalau ada orang bersembunyi di hutan itu keluar dengan pentungan mendekati saya, besok pagi tentu dapat terbaca di surat kabar Pangkal Pinang :
" Dokter rumah sakit Blinyu ditemukan terkapar dengan kepala berdarah di hutan" .
Tanda tanya mengapa malam-malam dokter berada disitu ?
Tidak lama orang itu kembali dan berkata :
" Maaf Singsang anak saya sudah tidur dan saya tidak tega membangunkannya ".
Saya hampir meledak. Saya dibangunkan tengah malam dan ia tidak tega membangunkan anaknya. Untuk apa saya dipanggil tadi. Jantung saya sudah lari cepat, aan tetapi saya ingat gambaran saya tentang tulisan di surat kabar besok. Kalau kita berkelahi di sini, semua usaha pendidikan dokter bercuma saja dan berhenti di tengah-tengah hutan di pulau Bangka. Dengan hati mendongkol saya balik mobil saya dan terus pulang. Esok harinya ia tidak melapor. Apakah anaknya betul sakit atau apakah ia ingin diantarkan pulang tengah malam ? Memang salah saya sendiri tidak tanya dulu rumahnya atau minta dibawa anaknya ke rumah sakit saja.
Anda pengunjung ke :

sejak tanggal 1 Desember 1999