| |
PROLOG
(Sedikit Catatan Kecil Dariku)
Lelaki itu berulang kali
berkata begini ketika ditanya kapan dia akan menikah:
“Aku percaya, jodoh itu di tangan Tuhan. Dia akan datang dengan
sendirinya bila Yang Di Atas menghendakinya….”
Kubilang, “Itu betul. Tapi, bagaimana mungkin dia akan datang sendiri
bila tidak diusahakan sama sekali? Apakah bidadarimu itu akan jatuh begitu
saja dari langit?”
Dia cuma menjawab, “Biarlah itu menjadi misteri bagiku sampai tiba
saatnya nanti. Let’s everything just flow, as the river goes by….”
Beberapa lama aku tidak mendengar kabar darinya. Sempat kudengar kabar-burung
bahwa dia sebenarnya sudah menikah. Ah, apa iya, tanpa undangan atau kabar
sama sekali? Lagi pula, apakah langit telah menjatuhkan seorang bidadari
untuknya? It’s almost impossible, I think. Dan, aku diam-diam masih
juga menyayangkan ‘kebodohan’-nya, kepasrahannya yang kuanggap
berlebihan.
But, what a surprise! Pada 4 Mei 2003 lalu, saat kuucapkan “Happy
Birthday” untuknya lewat SMS, kutanyakan sekaligus rasa penasaranku,
“Apakah bidadari itu telah diturunkan langit untukmu?”
Ternyata, jawabannya adalah: “Ya. namanya Alo, gadis Palembang.
Kami akan menikah 29 Juni 2003.”
Musim
semi bulan September 2001 membuat cuaca Kota Dubai cukup panas. Jelas
lebih panas daripada Jakarta. Tetapi, suasana itu tidak mengacaukan suasana
hati dan semangat lelaki itu untuk terus menjalani hari-harinya dengan
optimis. Seperti biasa, dia memulai harinya dengan bangun saat hari masih
gelap, sekitar pukul empat pagi. Setelah sholat, dan sebelum berangkat
ke kantor sekitar pukul tujuh pagi waktu setempat, dia memulai aktivitas
paginya dengan menyapu berita-berita terbaru di internet dan membalas
e-mail kawan-kawannya dari berbagai penjuru dan berbagai profesi. Tetapi,
tentu saja yang terbanyak dari Jakarta, tempat dia bermukim dan mencari
nafkah, sebelum dia ditugaskan membantu membuka cabang baru perusahaannya
di salah satu kota perdagangan di Timur Tengah itu.
Seperti biasa, dia menanggapi hampir tiap kalimat tulisan rekan e-mail-nya
dengan kalimat-kalimat singkat yang diawali simbol “+” untuk
menandai: “yang ini bagian jawaban atau omongan Verri” dari
bagian perkataan rekan e-mail-nya. Dan, satu lagi kebiasaannya: dia hampir
tak pernah menjawab lebih panjang dari tiga kalimat; malah sering hanya
satu kata “+ Yap…” atau “+ OK…” saja.
Tetapi, justru kebiasaannya menjawab e-mail seseorang yang semula berbentuk
seperti surat biasa menjadi berbentuk tanya-jawab atau dialog, membuat
keakraban lebih terasa. Nah, bila dia ingin mengirimkan sebuah artikel
seni atau resep obat tradisional, atau bermaksud menyebarkan undangan
pameran atau diskusi seni, barulah dia menulis sebuah e-mail yang utuh
dan agak panjang. Di luar itu, dia bilang, dia tidak ‘pe-de’
karena merasa tidak pintar menulis. Dia hanya pintar ‘melukis’
(yang dengan jenaka diplesetkannya sebagai singkatan dari ‘meluk’
dan ‘kiss’).
Bagaimana pun, dia memang seorang teman yang asyik. Juga baik dan perhatian.
Sulit bagi seseorang untuk mengabaikan e-mail dari seniman yang tak alergi
bekerja kantoran ini. Salah seorang teman barunya adalah seorang cewek
yang berpanggilan akrab Alo, yang saat itu sedang bekerja di Jakarta (karena
cewek satu ini sering ditugaskan di luar daerah). Lihat saja, e-mail perkenalan
Verri yang manis dan sopan sudah dibalas gadis itu dengan manis dan sopan
juga, tanpa makian atau gerundelan: “Siapa sih kamu? Ngapain sok
kenal pake kirim-kirim e-mail segala…!” atau semacamnya. Bahkan,
kemudian mereka sering saling bercanda atau saling ledek di dalam e-mail,
bagaikan orang yang sudah lama berteman.
Adalah seseorang yang dipanggil O-om Ramli, kawan-cyber Verri yang secara
kebetulan memberikan alamat e-mail cewek itu saat Verri iseng meminta
dikenalkan dengan seorang gadis. Verri sendiri menjadi akrab dengan pemuda
Banten itu lantaran Verri tahu banyak tentang cara-cara pengobatan tradisional
Banten. Maklum, pelukis dan mantan fotografer yang di suatu masa dulu
punya hobi hunting tempat-tempat yang bagus buat dipotret dan dilukis
itu pernah bertualang ke ‘negeri-debus’ tersebut sembari bertanya-tanya
kepada penduduk setempat tentang resep-resep penyembuhan tradisional dari
daerah itu, sehingga mereka saling berbagi pengetahuan dalam obrolannya.
Sementara, pertemuan secara langsung dengan kawannya itu hingga saat ini
belum pernah terjadi.
By the way, sejak gadis Palembang-Banjarmasin itu membalas e-mail perkenalan
Verri, resmilah mereka menjadi salah satu sahabat-tetap di internet. Sayangnya,
musim semi Dubai saat itu belum mampu menyemikan apa-apa dalam hati Verri.
E-mail Alo tak lebih dari belasan atau kadang puluhan e-mail kawan-kawan
cyber-nya yang lain—baik laki-laki maupun perempuan—yang sering
dicandainya atau dilayaninya berbasa-basi, tanpa pernah saling menanyakan
hal-hal yang bersifat pribadi. Dia bahkan tak ingin tahu apakah Alo atau
kawan perempuannya yang lain di luar sana sudah menikah atau belum, sudah
punya pacar atau belum, atau semacamnya. Dia sendiri cenderung menghindar
bila ada yang menanyainya hal-hal personal macam begitu. Padahal, bukankah
sebenarnya itu bisa menjadi kesempatan bagi dia untuk ‘mencari jodoh’?
Ah, Verri terlalu percaya bahwa jodohnya akan datang sendiri bila saatnya
tiba. Dia percaya bahwa Yang Mahakuasa akan menuntun dan menunjukkan jodoh
yang tepat untuknya, tanpa dia harus terlalu ngoyo mencari-cari, kendati
usianya sudah tak mengizinkan lagi untuk membuat dia disebut seorang ‘pemuda’.
***
Cewek yang punya nama asli Farchiah tetapi akrab dipanggil Alo—penggalan
dari Galuh, panggilan khas bagi perempuan Banjarmasin—itu sempat
terkejut ketika membaca sebuah nama asing dalam inbox-nya. Ternyata, isinya
mengajak berkenalan. Cowok itu juga berterus terang bahwa dia mendapatkan
alamat e-mail Alo dari Ramli, kawannya di salah satu mailing lists (milis)
yang katanya pernah bertemu Alo dalam acara ‘kopi darat’ salah
satu milis lain yang diikutinya. Alo sendiri tak terlalu akrab dengan
si ‘pak-comblang’ yang konon sebenarnya tak punya maksud khusus
terhadap kedua insan itu sebelum kemudian ‘terjadi apa-apa’
di antara mereka. Ya, sudah, dia pikir, toh cuma berkenalan biasa. Orangnya
pun jauh di Dubai sana. Kenapa tidak, menambah satu kenalan baru?
Mereka pun hampir setiap hari saling bertukar e-mail. Alo senang saja
melayani obrolan Verri yang segar dan tak pernah bikin pusing. Apalagi,
Alo sendiri adalah seorang yang humoris dan senang bergaul. Bahkan, Alo
merasa ada manfaatnya juga mengobrol di alam-maya dengan cowok satu ini,
karena lelaki itu seperti ‘kamus-hidup’ saja. Pengetahuannya
luas. Sepertinya, dia tahu tentang apa saja, bisa bicara tentang apa saja.
Tetapi, gadis yang lahir di Surabaya ini tak pernah menganggap Verri lebih
dari sekadar teman biasa. Dan, sepertinya Verri pun begitu. Mereka hanya
membicarakan hal-hal yang umum seperti cuaca di Dubai dan Jakarta, pekerjaan
dan kegiatan mereka sehari-hari. Bila tak ada yang dibicarakan, paling-paling
mereka akan saling bercanda dan saling ledek. Tak ada pembicaraan khusus
mengenai hal-hal yang berbau pribadi, bahkan mengenai keluarga pun tidak.
Waktu itu, Alo sendiri sudah punya pacar, teman sekantornya. Tetapi, karena
Verri tak pernah menanyakan, dia pun tak merasa perlu untuk menceritakannya.
Dia juga tidak mengatakan apa-apa kepada sahabat e-mail-nya yang satu
itu saat dia kemudian putus dengan kekasihnya. Dia sendiri tak terlalu
ingin tahu mengenai status Verri sebenarnya. Untuk apa pula? Tak ada yang
membuat sahabat-mayanya ini perlu diberikan keistimewaan khusus.
Terkadang Verri juga bercerita tentang perjalanannya hunting ke negara-negara
tetangga seperti Oman, Qatar, Iran dan sekitarnya di kala weekend (Jumat—Minggu),
dan sesekali mengirimkan foto lukisan yang baru diselesaikannya. Buat
silaturahmi saja, katanya.
Sebenarnya, Alo tak terlalu mengerti lukisan. Foto-foto lukisan yang dikirim
Verri hanya bisa dinikmatinya sebagai penikmat awam dengan komentar ala
kadarnya. Dia tak terlalu peduli entah lukisan pantai dan pemandangan
‘negeri-negeri unta’ yang dilukis itu termasuk aliran mana
atau dilukis menggunakan cat apa. Bahkan, setelah kemudian mereka saling
dekat, Alo tak merasa perlu berpura-pura menggandrungi lukisan atau mencari
tahu tentang aliran-aliran seni lukis dan nama-nama pelukis terkenal demi
menyenangkan pasangannya.
Alo merasa hanya bisa menulis puisi. Puisi-puisinya pun—yang inspirasinya
baru datang saat dia jatuh cinta atau sedang mengalami problem percintaan
yang sulit—kebanyakan hanya disimpannya sendiri. Hanya cinta-pertamanya
di masa ABG dulu yang pernah dia kirimi puisinya. Dan, kemudian, Verri….
***
Bulan Januari 2002, tugas Verri di Dubai selesai, dan bertepatan dengan
meninggal dunianya Ayahanda tercinta, kembalilah dia ke Jakarta. Setelah
bekerja di Jakarta kembali, dia mulai sering iseng meng-SMS Alo, sekadar
menanyakan kabar atau mencandai, tetapi tetap tanpa berbau cinta-cintaan
atau rayuan. Frekuensi e-mail pun semakin sering, karena Verri bisa mengakses
internet sepanjang jam kantor, demikian juga Alo.
Suatu siang, sekadar ingin saling bertemu muka dan berkenalan secara resmi
di ‘alam-nyata’, keduanya bersepakat makan siang bersama.
Kebetulan, letak kantor mereka berdua sama-sama di bilangan Kelapa Gading.
Jadilah sebuah restoran sop konro di Kelapa Gading menyaksikan pertemuan
perdana Alo dan Verri.
Ada yang terasa lain setelah pertemuan itu? Tidak juga, biasa aja—jawab
mereka dengan lugas. Verri adalah teman yang menyenangkan karena enak
diajak ngobrol—kata Alo. Alo adalah teman yang lucu karena hampir
tidak pernah bicara serius—kata Verri. Tetapi, masih juga tidak
ada yang lebih dari itu. Bahkan, setelah kadang-kadang Verri menjemput
Alo sepulang kerja, keduanya masih merasa sebagai teman biasa saja. Masih
juga tidak saling ingin tahu masalah pribadi masing-masing.
Sampai-sampai, Alo tidak menceritakan kepada Verri bila dia sudah punya
pacar baru, bukan teman sekantornya, yang juga kadang-kadang menjemputnya
sepulang kerja. Lucunya, bila pacarnya sedang tidak bisa menjemput, tiba-tiba
Verri menelepon dan menanyakan apakah dia butuh jemputan. Sebaliknya,
bila sang pacar menjemput, secara kebetulan Verri sedang ada urusan lain.
Ya, sudah, Alo menikmati saja keuntungan ganda ini. Toh, antara dia dan
Verri juga tidak ada apa-apa. Juga, bukan keberadaan Verri yang membuat
dia beberapa bulan kemudian lagi-lagi tak bisa meneruskan hubungan cinta
dengan pacar barunya itu.
Keakraban yang tanpa bumbu cinta itu berlangsung terus dan tak menjadi
putus saat Alo pada pertengahan 2002 dipindahtugaskan ke kantor cabang
perusahaannya yang baru dibuka di Makassar. Keduanya tetap saling ber-SMS
dan ber-e-mail, sekadar say hello dan sedikit ber-haha-hihi. Bahkan, sewaktu
Alo akan berangkat ke Makassar, lagi-lagi Verri menawarkan jasanya di
saat yang tepat. Saat Alo akan berangkat ke bandara diantar orangtuanya,
secara kebetulan Verri yang akan ke kantor mengatakan bersedia mampir
terlebih dahulu ke rumah Alo untuk mengantarkan mereka ke bandara. Maka,
berangkatlah Alo dan orangtuanya diantar Verri. Namun, karena di antara
mereka tidak—eh, ‘belum’—ada apa-apa, setelah
men-drop Alo, Verri langsung cabut ke kantor tanpa menunggu sampai Alo
naik ke pesawat sambil melambai-lambai plus menitikkan air mata seperti
di film-film.
Nah, pada Januari 2003, Alo pulang ke Jakarta selama beberapa waktu karena
harus mengikuti training. Saat kembali berada di rumah, orangtua Alo merasa
perlu menyampaikan unek-unek mereka selama ini. Rupanya, mereka resah
juga melihat anak perempuan mereka yang sudah cukup umur itu belum juga
tampak bersiap-siap menikah. Akhirnya, mereka mencoba menjodohkan Alo
dengan seorang sepupu jauhnya. Mulanya, Alo tidak menolak meski belum
menyatakan menerima. Dia menurut saja ketika dipertemukan dan kemudian
diajak jalan oleh ‘calon jodohnya’ itu. Tetapi, kemudian dia
merasa tidak sreg dan tidak berminat meneruskan hubungan lebih jauh dengan
lelaki yang masih saudaranya itu. Maka, dengan terus terang dia menyatakan
menolak perjodohan itu. Ayah dan ibu Alo tentunya merasa kecewa, namun
mereka juga sadar bahwa mereka tak bisa memaksa. Bukan zamannya lagi perjodohan
paksa ala kakek-nenek kita, toh…!
Suatu hari, ibu Alo bertanya, “Al, kenapa sih kamu menolak dijodohkan?
Sebetulnya, kamu punya teman dekat nggak, sekarang? Apa diam-diam kamu
sudah punya calon lain?”
“Ah, calon dari mana? Sekarang aku nggak lagi dekat sama siapa-siapa,
Ma. Aku nggak suka aja sama calonnya Mama itu. Kalau nggak sreg, kan nggak
bisa dipaksa, toh, Ma….”
“Okelah. Lantas, hubungan kamu dengan Nak Verri itu bagaimana?”
“Lho, kok nanyain Verri?”
“Lha, iya, kan dia pernah beberapa kali kamu ajak ke sini. Tampaknya
dia baik.”
“Mama ada-ada aja. Alo sama Verri nggak ada apa-apa, kok. Cuma teman
biasa.”
“Ah, masa iya? Kelihatannya dia perhatian sekali sama kamu. Kamu
ke Makassar, dia yang antar ke bandara. Bahkan, Lebaran lalu dia juga
menyempatkan diri ke sini bersilaturahmi.”
“Yah, aku mau ngomong apa…? Dia memang baik, sih, tapi antara
kami memang nggak ada apa-apa, kok. Aku sama dia nggak pernah bicara soal
pribadi, apalagi soal cinta.”
“Ah, Mama nggak percaya kalau nggak ada apa-apa. Mama punya feeling
yang kuat kok terhadap dia. Mungkin kamu belum menyadarinya saja.”
“Ah, Mama nih, yang enggak-enggak aja. Kalau emang nggak ada apa-apa
mesti gimana dong?”
“Yah, sudahlah…, kita lihat saja nanti….”
Besoknya, hari Jumat sore, Verri menelepon Alo di rumah. Mereka pun mengobrol
seperti biasa. Ternyata, ibunda Alo mendengar pembicaraan itu. Seusai
Alo menutup telepon, sang ibu bertanya sambil kembali sedikit mendesak
tentang jodoh Alo. Beliau mengultimatum: jika Alo belum juga berhasil
menemukan jodohnya sendiri, beliau akan mencarikan lagi saudara atau kenalan
lain untuk dijodohkan dengan Alo. Kecuali…:
“Tadi telepon dari Nak Verri, ya?”
“Iya, Ma, kenapa?”
“Nggak apa-apa, cuma ada perlu sedikit. Mama mau bicara sama dia.
Kamu teleponin dia, ya. Bilang saja, Mama ada perlu. Mama pingin tahu
perasaan dia ke kamu sebenarnya gimana.”
“Ih, malu, ah. Masa nanya-nanya gitu, sih?”
“Memangnya kenapa? Mama lihat, laki-laki yang lagi dekat dengan
kamu sekarang, ya, dia itu, kan? Mama juga yakin, kamu sebenarnya suka
sama dia, cuma kamu pura-pura nggak menyadari itu. Sekarang, pilih mana:
mau sama Verri, atau Mama carikan lelaki lain yang belum kamu kenal dan
belum tentu cocok dengan kamu?”
Alo menyerah. Memang, belakangan ini cuma Verri teman laki-laki yang sering
bersamanya. Dan, dia pun mengakui, lelaki itu sangat baik dan asyik sebagai
teman. Apakah memang sesungguhnya ada benih-benih cinta yang belum disadarinya…?
Akhirnya, dia meng-SMS Verri untuk memberitahukan bahwa ibunya ingin bicara.
Setelah Verri membalas dengan: “Okelah, nggak apa-apa…”
meski disertai beribu pertanyaan dalam hati, Alo pun memencet nomor Verri
yang tersimpan di memori ponselnya lalu membiarkan ibunya bicara.
“Begini, Nak Verri. Tante mau tanya, sebenarnya perasaanmu terhadap
Alo itu bagaimana?”
“Wah, gimana, ya, Tante…. Saya sendiri nggak tahu mesti jawab
apa. Selama ini, ya…, hubungan kami biasa-biasa aja, seperti teman
biasa, nggak pernah bicara serius atau saling cerita masalah pribadi.
Kami juga kan jarang ketemu, paling cuma telepon atau SMS.”
“Kalau Tante boleh tahu, apakah Nak Verri selama ini sudah punya
‘calon’ lain?”
“Mm…, sebenarnya belum ada, sih, Tante.”
“Nah, begini. Sebelumnya, maaf lho, Nak Verri. Tante bukan mau mendesak.
Tante cuma cemas memikirkan si Alo itu, belum juga dapat pasangan hidup
sampai sekarang. Dan, dua hari lagi dia akan terbang lagi ke Makassar.
Jadi, kalau bisa, Tante ingin tahu lebih jelas, apa Nak Verri tidak punya
niat untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Alo?”
“Terus terang saya belum pernah berpikir ke situ, Tante. Mungkin
lebih baik kalau kita bicara langsung, ya, Tante…, nggak enak bicara
seperti ini di telepon…. Bagaimana kalau besok saya ke rumah Tante
untuk bicara lebih lanjut? Saya juga perlu waktu sebentar untuk memikirkan
hal ini….”
“Baiklah kalau begitu. Tante tunggu besok, ya.”
Besoknya, Sabtu, sehari sebelum Alo berangkat kembali ke Makassar, Verri
benar-benar datang seperti janjinya kepada ibu Alo. Alo sedang pergi bersama
temannya saat itu. Rupanya, sang mami sengaja tidak memberi tahu bahwa
Verri akan datang. Maka, keduanya pun asyik berbincang. Ibu Alo banyak
bercerita tentang salah satu dari ke-tujuh anaknya itu. Verri pun menjawab
dengan kooperatif apa-apa yang ingin diketahui sang ‘calon mertua’.
“Bagi saya, semua tergantung Alo juga, Tante. Kalau dia bersedia,
saya juga bersedia menjalin hubungan yang lebih serius. Tetapi, terus
terang saya belum bisa memastikan, Tante, karena bagaimana pun keputusan
akhir berada di tangan ibu saya. Sepertinya ibu saya juga sudah punya
calon untuk saya. Bila beliau tidak merestui, ya, saya juga tak bisa bilang
apa-apa. Tante dan Alo juga harus mengerti bila nantinya ibu saya menolak….”
Setelah tercapai kesepakatan bahwa Verri akan memperkenalkan ibunya yang
menetap di Brebes, Jawa Tengah apabila sedang bertandang ke Jakarta, Alo
datang. Dia kaget melihat Verri sudah berada di rumahnya dan berbincang-bincang
dengan ibunya. Sewaktu diberi tahu hasil pertemuan itu, Alo tak bisa berpura-pura
tidak bahagia dan bersyukur atas campur tangan sang ibunda. Dia akan membiarkan
dirinya mengalun mengikuti aliran air itu, sambil berharap agar aliran
itu segera tiba di muaranya yang bening….
***
Keesokan harinya, kembali Alo harus berpisah dengan Verri. Tetapi, kali
ini ada yang terasa lain. ‘Pencomblangan’ dari ibunya membuat
hubungan jarak jauh mereka tak lagi dalam konteks teman biasa seperti
sebelumnya. Verri semakin rajin menelepon di samping e-mail dan SMS tetapnya.
Obrolannya pun mulai berbeda. Kalau dulu terbatas hanya mengobrolkan hal-hal
yang ringan dan umum, sekarang dia mulai berani bicara pribadi dan ‘mengarah’
seperti lazimnya dua insan yang berpacaran.
Dan, Alo, tak bisa membohongi rasa kasmaran bercampur kangen yang kini
hadir di hatinya yang jauh dari Jakarta. Dan, kembalilah dia berkutat
dengan kertas dan pensil di saat lamunannya datang. Maka, mengalirlah
puisi-puisi cinta yang manis untuk sang kekasih, yang melukiskan pula
perasaan bahagianya….
Di tengah sepinya malam, dia kadang juga merasa takut akan masa depannya:
akankah cita-citanya untuk hidup bersama dan menjadi milik Verri selamanya
bakal terwujud? Apakah itu bukan hanya sebuah mimpi? Apakah mimpi itu
tidak terlalu tinggi untuk dia raih? Apakah dia adalah gadis yang sungguh-sungguh
cocok buat lelaki itu, dan dia tak akan mengecewakan Verri dan keluarganya?
Akankah ibu Verri menerima dirinya? Atau sebaliknya, dia harus rela melepaskan
lelaki yang mulai telanjur amat dia cintai itu untuk perempuan lain pilihan
ibunya…?
Berbagai tanya dan rindu itu hanya bisa dituangkan Alo dalam puisi, yang
kemudian dikirimkannya via e-mail atau via pos ke alamat Verri. Salah
satunya adalah ini:
Puisi
Malam Sederhana
|
|