Kembali ke depan Jadwal acara Gambar undangan resmi Peta menuju lokasi Galeri foto Story of my life

Counter
 
PROLOG
(Sedikit Catatan Kecil Dariku)

Lelaki itu berulang kali berkata begini ketika ditanya kapan dia akan menikah:
“Aku percaya, jodoh itu di tangan Tuhan. Dia akan datang dengan sendirinya bila Yang Di Atas menghendakinya….”
Kubilang, “Itu betul. Tapi, bagaimana mungkin dia akan datang sendiri bila tidak diusahakan sama sekali? Apakah bidadarimu itu akan jatuh begitu saja dari langit?”
Dia cuma menjawab, “Biarlah itu menjadi misteri bagiku sampai tiba saatnya nanti. Let’s everything just flow, as the river goes by….”
Beberapa lama aku tidak mendengar kabar darinya. Sempat kudengar kabar-burung bahwa dia sebenarnya sudah menikah. Ah, apa iya, tanpa undangan atau kabar sama sekali? Lagi pula, apakah langit telah menjatuhkan seorang bidadari untuknya? It’s almost impossible, I think. Dan, aku diam-diam masih juga menyayangkan ‘kebodohan’-nya, kepasrahannya yang kuanggap berlebihan.
But, what a surprise! Pada 4 Mei 2003 lalu, saat kuucapkan “Happy Birthday” untuknya lewat SMS, kutanyakan sekaligus rasa penasaranku, “Apakah bidadari itu telah diturunkan langit untukmu?”
Ternyata, jawabannya adalah: “Ya. namanya Alo, gadis Palembang. Kami akan menikah 29 Juni 2003.”


Musim semi bulan September 2001 membuat cuaca Kota Dubai cukup panas. Jelas lebih panas daripada Jakarta. Tetapi, suasana itu tidak mengacaukan suasana hati dan semangat lelaki itu untuk terus menjalani hari-harinya dengan optimis. Seperti biasa, dia memulai harinya dengan bangun saat hari masih gelap, sekitar pukul empat pagi. Setelah sholat, dan sebelum berangkat ke kantor sekitar pukul tujuh pagi waktu setempat, dia memulai aktivitas paginya dengan menyapu berita-berita terbaru di internet dan membalas e-mail kawan-kawannya dari berbagai penjuru dan berbagai profesi. Tetapi, tentu saja yang terbanyak dari Jakarta, tempat dia bermukim dan mencari nafkah, sebelum dia ditugaskan membantu membuka cabang baru perusahaannya di salah satu kota perdagangan di Timur Tengah itu.
Seperti biasa, dia menanggapi hampir tiap kalimat tulisan rekan e-mail-nya dengan kalimat-kalimat singkat yang diawali simbol “+” untuk menandai: “yang ini bagian jawaban atau omongan Verri” dari bagian perkataan rekan e-mail-nya. Dan, satu lagi kebiasaannya: dia hampir tak pernah menjawab lebih panjang dari tiga kalimat; malah sering hanya satu kata “+ Yap…” atau “+ OK…” saja. Tetapi, justru kebiasaannya menjawab e-mail seseorang yang semula berbentuk seperti surat biasa menjadi berbentuk tanya-jawab atau dialog, membuat keakraban lebih terasa. Nah, bila dia ingin mengirimkan sebuah artikel seni atau resep obat tradisional, atau bermaksud menyebarkan undangan pameran atau diskusi seni, barulah dia menulis sebuah e-mail yang utuh dan agak panjang. Di luar itu, dia bilang, dia tidak ‘pe-de’ karena merasa tidak pintar menulis. Dia hanya pintar ‘melukis’ (yang dengan jenaka diplesetkannya sebagai singkatan dari ‘meluk’ dan ‘kiss’).
Bagaimana pun, dia memang seorang teman yang asyik. Juga baik dan perhatian. Sulit bagi seseorang untuk mengabaikan e-mail dari seniman yang tak alergi bekerja kantoran ini. Salah seorang teman barunya adalah seorang cewek yang berpanggilan akrab Alo, yang saat itu sedang bekerja di Jakarta (karena cewek satu ini sering ditugaskan di luar daerah). Lihat saja, e-mail perkenalan Verri yang manis dan sopan sudah dibalas gadis itu dengan manis dan sopan juga, tanpa makian atau gerundelan: “Siapa sih kamu? Ngapain sok kenal pake kirim-kirim e-mail segala…!” atau semacamnya. Bahkan, kemudian mereka sering saling bercanda atau saling ledek di dalam e-mail, bagaikan orang yang sudah lama berteman.
Adalah seseorang yang dipanggil O-om Ramli, kawan-cyber Verri yang secara kebetulan memberikan alamat e-mail cewek itu saat Verri iseng meminta dikenalkan dengan seorang gadis. Verri sendiri menjadi akrab dengan pemuda Banten itu lantaran Verri tahu banyak tentang cara-cara pengobatan tradisional Banten. Maklum, pelukis dan mantan fotografer yang di suatu masa dulu punya hobi hunting tempat-tempat yang bagus buat dipotret dan dilukis itu pernah bertualang ke ‘negeri-debus’ tersebut sembari bertanya-tanya kepada penduduk setempat tentang resep-resep penyembuhan tradisional dari daerah itu, sehingga mereka saling berbagi pengetahuan dalam obrolannya. Sementara, pertemuan secara langsung dengan kawannya itu hingga saat ini belum pernah terjadi.
By the way, sejak gadis Palembang-Banjarmasin itu membalas e-mail perkenalan Verri, resmilah mereka menjadi salah satu sahabat-tetap di internet. Sayangnya, musim semi Dubai saat itu belum mampu menyemikan apa-apa dalam hati Verri. E-mail Alo tak lebih dari belasan atau kadang puluhan e-mail kawan-kawan cyber-nya yang lain—baik laki-laki maupun perempuan—yang sering dicandainya atau dilayaninya berbasa-basi, tanpa pernah saling menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi. Dia bahkan tak ingin tahu apakah Alo atau kawan perempuannya yang lain di luar sana sudah menikah atau belum, sudah punya pacar atau belum, atau semacamnya. Dia sendiri cenderung menghindar bila ada yang menanyainya hal-hal personal macam begitu. Padahal, bukankah sebenarnya itu bisa menjadi kesempatan bagi dia untuk ‘mencari jodoh’?
Ah, Verri terlalu percaya bahwa jodohnya akan datang sendiri bila saatnya tiba. Dia percaya bahwa Yang Mahakuasa akan menuntun dan menunjukkan jodoh yang tepat untuknya, tanpa dia harus terlalu ngoyo mencari-cari, kendati usianya sudah tak mengizinkan lagi untuk membuat dia disebut seorang ‘pemuda’.
***
Cewek yang punya nama asli Farchiah tetapi akrab dipanggil Alo—penggalan dari Galuh, panggilan khas bagi perempuan Banjarmasin—itu sempat terkejut ketika membaca sebuah nama asing dalam inbox-nya. Ternyata, isinya mengajak berkenalan. Cowok itu juga berterus terang bahwa dia mendapatkan alamat e-mail Alo dari Ramli, kawannya di salah satu mailing lists (milis) yang katanya pernah bertemu Alo dalam acara ‘kopi darat’ salah satu milis lain yang diikutinya. Alo sendiri tak terlalu akrab dengan si ‘pak-comblang’ yang konon sebenarnya tak punya maksud khusus terhadap kedua insan itu sebelum kemudian ‘terjadi apa-apa’ di antara mereka. Ya, sudah, dia pikir, toh cuma berkenalan biasa. Orangnya pun jauh di Dubai sana. Kenapa tidak, menambah satu kenalan baru?
Mereka pun hampir setiap hari saling bertukar e-mail. Alo senang saja melayani obrolan Verri yang segar dan tak pernah bikin pusing. Apalagi, Alo sendiri adalah seorang yang humoris dan senang bergaul. Bahkan, Alo merasa ada manfaatnya juga mengobrol di alam-maya dengan cowok satu ini, karena lelaki itu seperti ‘kamus-hidup’ saja. Pengetahuannya luas. Sepertinya, dia tahu tentang apa saja, bisa bicara tentang apa saja.
Tetapi, gadis yang lahir di Surabaya ini tak pernah menganggap Verri lebih dari sekadar teman biasa. Dan, sepertinya Verri pun begitu. Mereka hanya membicarakan hal-hal yang umum seperti cuaca di Dubai dan Jakarta, pekerjaan dan kegiatan mereka sehari-hari. Bila tak ada yang dibicarakan, paling-paling mereka akan saling bercanda dan saling ledek. Tak ada pembicaraan khusus mengenai hal-hal yang berbau pribadi, bahkan mengenai keluarga pun tidak.
Waktu itu, Alo sendiri sudah punya pacar, teman sekantornya. Tetapi, karena Verri tak pernah menanyakan, dia pun tak merasa perlu untuk menceritakannya. Dia juga tidak mengatakan apa-apa kepada sahabat e-mail-nya yang satu itu saat dia kemudian putus dengan kekasihnya. Dia sendiri tak terlalu ingin tahu mengenai status Verri sebenarnya. Untuk apa pula? Tak ada yang membuat sahabat-mayanya ini perlu diberikan keistimewaan khusus.
Terkadang Verri juga bercerita tentang perjalanannya hunting ke negara-negara tetangga seperti Oman, Qatar, Iran dan sekitarnya di kala weekend (Jumat—Minggu), dan sesekali mengirimkan foto lukisan yang baru diselesaikannya. Buat silaturahmi saja, katanya.
Sebenarnya, Alo tak terlalu mengerti lukisan. Foto-foto lukisan yang dikirim Verri hanya bisa dinikmatinya sebagai penikmat awam dengan komentar ala kadarnya. Dia tak terlalu peduli entah lukisan pantai dan pemandangan ‘negeri-negeri unta’ yang dilukis itu termasuk aliran mana atau dilukis menggunakan cat apa. Bahkan, setelah kemudian mereka saling dekat, Alo tak merasa perlu berpura-pura menggandrungi lukisan atau mencari tahu tentang aliran-aliran seni lukis dan nama-nama pelukis terkenal demi menyenangkan pasangannya.
Alo merasa hanya bisa menulis puisi. Puisi-puisinya pun—yang inspirasinya baru datang saat dia jatuh cinta atau sedang mengalami problem percintaan yang sulit—kebanyakan hanya disimpannya sendiri. Hanya cinta-pertamanya di masa ABG dulu yang pernah dia kirimi puisinya. Dan, kemudian, Verri….
***
Bulan Januari 2002, tugas Verri di Dubai selesai, dan bertepatan dengan meninggal dunianya Ayahanda tercinta, kembalilah dia ke Jakarta. Setelah bekerja di Jakarta kembali, dia mulai sering iseng meng-SMS Alo, sekadar menanyakan kabar atau mencandai, tetapi tetap tanpa berbau cinta-cintaan atau rayuan. Frekuensi e-mail pun semakin sering, karena Verri bisa mengakses internet sepanjang jam kantor, demikian juga Alo.
Suatu siang, sekadar ingin saling bertemu muka dan berkenalan secara resmi di ‘alam-nyata’, keduanya bersepakat makan siang bersama. Kebetulan, letak kantor mereka berdua sama-sama di bilangan Kelapa Gading. Jadilah sebuah restoran sop konro di Kelapa Gading menyaksikan pertemuan perdana Alo dan Verri.
Ada yang terasa lain setelah pertemuan itu? Tidak juga, biasa aja—jawab mereka dengan lugas. Verri adalah teman yang menyenangkan karena enak diajak ngobrol—kata Alo. Alo adalah teman yang lucu karena hampir tidak pernah bicara serius—kata Verri. Tetapi, masih juga tidak ada yang lebih dari itu. Bahkan, setelah kadang-kadang Verri menjemput Alo sepulang kerja, keduanya masih merasa sebagai teman biasa saja. Masih juga tidak saling ingin tahu masalah pribadi masing-masing.
Sampai-sampai, Alo tidak menceritakan kepada Verri bila dia sudah punya pacar baru, bukan teman sekantornya, yang juga kadang-kadang menjemputnya sepulang kerja. Lucunya, bila pacarnya sedang tidak bisa menjemput, tiba-tiba Verri menelepon dan menanyakan apakah dia butuh jemputan. Sebaliknya, bila sang pacar menjemput, secara kebetulan Verri sedang ada urusan lain. Ya, sudah, Alo menikmati saja keuntungan ganda ini. Toh, antara dia dan Verri juga tidak ada apa-apa. Juga, bukan keberadaan Verri yang membuat dia beberapa bulan kemudian lagi-lagi tak bisa meneruskan hubungan cinta dengan pacar barunya itu.
Keakraban yang tanpa bumbu cinta itu berlangsung terus dan tak menjadi putus saat Alo pada pertengahan 2002 dipindahtugaskan ke kantor cabang perusahaannya yang baru dibuka di Makassar. Keduanya tetap saling ber-SMS dan ber-e-mail, sekadar say hello dan sedikit ber-haha-hihi. Bahkan, sewaktu Alo akan berangkat ke Makassar, lagi-lagi Verri menawarkan jasanya di saat yang tepat. Saat Alo akan berangkat ke bandara diantar orangtuanya, secara kebetulan Verri yang akan ke kantor mengatakan bersedia mampir terlebih dahulu ke rumah Alo untuk mengantarkan mereka ke bandara. Maka, berangkatlah Alo dan orangtuanya diantar Verri. Namun, karena di antara mereka tidak—eh, ‘belum’—ada apa-apa, setelah men-drop Alo, Verri langsung cabut ke kantor tanpa menunggu sampai Alo naik ke pesawat sambil melambai-lambai plus menitikkan air mata seperti di film-film.
Nah, pada Januari 2003, Alo pulang ke Jakarta selama beberapa waktu karena harus mengikuti training. Saat kembali berada di rumah, orangtua Alo merasa perlu menyampaikan unek-unek mereka selama ini. Rupanya, mereka resah juga melihat anak perempuan mereka yang sudah cukup umur itu belum juga tampak bersiap-siap menikah. Akhirnya, mereka mencoba menjodohkan Alo dengan seorang sepupu jauhnya. Mulanya, Alo tidak menolak meski belum menyatakan menerima. Dia menurut saja ketika dipertemukan dan kemudian diajak jalan oleh ‘calon jodohnya’ itu. Tetapi, kemudian dia merasa tidak sreg dan tidak berminat meneruskan hubungan lebih jauh dengan lelaki yang masih saudaranya itu. Maka, dengan terus terang dia menyatakan menolak perjodohan itu. Ayah dan ibu Alo tentunya merasa kecewa, namun mereka juga sadar bahwa mereka tak bisa memaksa. Bukan zamannya lagi perjodohan paksa ala kakek-nenek kita, toh…!
Suatu hari, ibu Alo bertanya, “Al, kenapa sih kamu menolak dijodohkan? Sebetulnya, kamu punya teman dekat nggak, sekarang? Apa diam-diam kamu sudah punya calon lain?”
“Ah, calon dari mana? Sekarang aku nggak lagi dekat sama siapa-siapa, Ma. Aku nggak suka aja sama calonnya Mama itu. Kalau nggak sreg, kan nggak bisa dipaksa, toh, Ma….”
“Okelah. Lantas, hubungan kamu dengan Nak Verri itu bagaimana?”
“Lho, kok nanyain Verri?”
“Lha, iya, kan dia pernah beberapa kali kamu ajak ke sini. Tampaknya dia baik.”
“Mama ada-ada aja. Alo sama Verri nggak ada apa-apa, kok. Cuma teman biasa.”
“Ah, masa iya? Kelihatannya dia perhatian sekali sama kamu. Kamu ke Makassar, dia yang antar ke bandara. Bahkan, Lebaran lalu dia juga menyempatkan diri ke sini bersilaturahmi.”
“Yah, aku mau ngomong apa…? Dia memang baik, sih, tapi antara kami memang nggak ada apa-apa, kok. Aku sama dia nggak pernah bicara soal pribadi, apalagi soal cinta.”
“Ah, Mama nggak percaya kalau nggak ada apa-apa. Mama punya feeling yang kuat kok terhadap dia. Mungkin kamu belum menyadarinya saja.”
“Ah, Mama nih, yang enggak-enggak aja. Kalau emang nggak ada apa-apa mesti gimana dong?”
“Yah, sudahlah…, kita lihat saja nanti….”
Besoknya, hari Jumat sore, Verri menelepon Alo di rumah. Mereka pun mengobrol seperti biasa. Ternyata, ibunda Alo mendengar pembicaraan itu. Seusai Alo menutup telepon, sang ibu bertanya sambil kembali sedikit mendesak tentang jodoh Alo. Beliau mengultimatum: jika Alo belum juga berhasil menemukan jodohnya sendiri, beliau akan mencarikan lagi saudara atau kenalan lain untuk dijodohkan dengan Alo. Kecuali…:
“Tadi telepon dari Nak Verri, ya?”
“Iya, Ma, kenapa?”
“Nggak apa-apa, cuma ada perlu sedikit. Mama mau bicara sama dia. Kamu teleponin dia, ya. Bilang saja, Mama ada perlu. Mama pingin tahu perasaan dia ke kamu sebenarnya gimana.”
“Ih, malu, ah. Masa nanya-nanya gitu, sih?”
“Memangnya kenapa? Mama lihat, laki-laki yang lagi dekat dengan kamu sekarang, ya, dia itu, kan? Mama juga yakin, kamu sebenarnya suka sama dia, cuma kamu pura-pura nggak menyadari itu. Sekarang, pilih mana: mau sama Verri, atau Mama carikan lelaki lain yang belum kamu kenal dan belum tentu cocok dengan kamu?”
Alo menyerah. Memang, belakangan ini cuma Verri teman laki-laki yang sering bersamanya. Dan, dia pun mengakui, lelaki itu sangat baik dan asyik sebagai teman. Apakah memang sesungguhnya ada benih-benih cinta yang belum disadarinya…?
Akhirnya, dia meng-SMS Verri untuk memberitahukan bahwa ibunya ingin bicara. Setelah Verri membalas dengan: “Okelah, nggak apa-apa…” meski disertai beribu pertanyaan dalam hati, Alo pun memencet nomor Verri yang tersimpan di memori ponselnya lalu membiarkan ibunya bicara.
“Begini, Nak Verri. Tante mau tanya, sebenarnya perasaanmu terhadap Alo itu bagaimana?”
“Wah, gimana, ya, Tante…. Saya sendiri nggak tahu mesti jawab apa. Selama ini, ya…, hubungan kami biasa-biasa aja, seperti teman biasa, nggak pernah bicara serius atau saling cerita masalah pribadi. Kami juga kan jarang ketemu, paling cuma telepon atau SMS.”
“Kalau Tante boleh tahu, apakah Nak Verri selama ini sudah punya ‘calon’ lain?”
“Mm…, sebenarnya belum ada, sih, Tante.”
“Nah, begini. Sebelumnya, maaf lho, Nak Verri. Tante bukan mau mendesak. Tante cuma cemas memikirkan si Alo itu, belum juga dapat pasangan hidup sampai sekarang. Dan, dua hari lagi dia akan terbang lagi ke Makassar. Jadi, kalau bisa, Tante ingin tahu lebih jelas, apa Nak Verri tidak punya niat untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Alo?”
“Terus terang saya belum pernah berpikir ke situ, Tante. Mungkin lebih baik kalau kita bicara langsung, ya, Tante…, nggak enak bicara seperti ini di telepon…. Bagaimana kalau besok saya ke rumah Tante untuk bicara lebih lanjut? Saya juga perlu waktu sebentar untuk memikirkan hal ini….”
“Baiklah kalau begitu. Tante tunggu besok, ya.”
Besoknya, Sabtu, sehari sebelum Alo berangkat kembali ke Makassar, Verri benar-benar datang seperti janjinya kepada ibu Alo. Alo sedang pergi bersama temannya saat itu. Rupanya, sang mami sengaja tidak memberi tahu bahwa Verri akan datang. Maka, keduanya pun asyik berbincang. Ibu Alo banyak bercerita tentang salah satu dari ke-tujuh anaknya itu. Verri pun menjawab dengan kooperatif apa-apa yang ingin diketahui sang ‘calon mertua’.
“Bagi saya, semua tergantung Alo juga, Tante. Kalau dia bersedia, saya juga bersedia menjalin hubungan yang lebih serius. Tetapi, terus terang saya belum bisa memastikan, Tante, karena bagaimana pun keputusan akhir berada di tangan ibu saya. Sepertinya ibu saya juga sudah punya calon untuk saya. Bila beliau tidak merestui, ya, saya juga tak bisa bilang apa-apa. Tante dan Alo juga harus mengerti bila nantinya ibu saya menolak….”
Setelah tercapai kesepakatan bahwa Verri akan memperkenalkan ibunya yang menetap di Brebes, Jawa Tengah apabila sedang bertandang ke Jakarta, Alo datang. Dia kaget melihat Verri sudah berada di rumahnya dan berbincang-bincang dengan ibunya. Sewaktu diberi tahu hasil pertemuan itu, Alo tak bisa berpura-pura tidak bahagia dan bersyukur atas campur tangan sang ibunda. Dia akan membiarkan dirinya mengalun mengikuti aliran air itu, sambil berharap agar aliran itu segera tiba di muaranya yang bening….
***
Keesokan harinya, kembali Alo harus berpisah dengan Verri. Tetapi, kali ini ada yang terasa lain. ‘Pencomblangan’ dari ibunya membuat hubungan jarak jauh mereka tak lagi dalam konteks teman biasa seperti sebelumnya. Verri semakin rajin menelepon di samping e-mail dan SMS tetapnya. Obrolannya pun mulai berbeda. Kalau dulu terbatas hanya mengobrolkan hal-hal yang ringan dan umum, sekarang dia mulai berani bicara pribadi dan ‘mengarah’ seperti lazimnya dua insan yang berpacaran.
Dan, Alo, tak bisa membohongi rasa kasmaran bercampur kangen yang kini hadir di hatinya yang jauh dari Jakarta. Dan, kembalilah dia berkutat dengan kertas dan pensil di saat lamunannya datang. Maka, mengalirlah puisi-puisi cinta yang manis untuk sang kekasih, yang melukiskan pula perasaan bahagianya….
Di tengah sepinya malam, dia kadang juga merasa takut akan masa depannya: akankah cita-citanya untuk hidup bersama dan menjadi milik Verri selamanya bakal terwujud? Apakah itu bukan hanya sebuah mimpi? Apakah mimpi itu tidak terlalu tinggi untuk dia raih? Apakah dia adalah gadis yang sungguh-sungguh cocok buat lelaki itu, dan dia tak akan mengecewakan Verri dan keluarganya? Akankah ibu Verri menerima dirinya? Atau sebaliknya, dia harus rela melepaskan lelaki yang mulai telanjur amat dia cintai itu untuk perempuan lain pilihan ibunya…?
Berbagai tanya dan rindu itu hanya bisa dituangkan Alo dalam puisi, yang kemudian dikirimkannya via e-mail atau via pos ke alamat Verri. Salah satunya adalah ini:

Puisi Malam Sederhana

 
 
Biarlah
Tak mengapa
Kita melakukan ini
Tanpa mengharap apa-apa
Kau tertawa
Aku juga
Kau bahagia
Aku juga
Kita memang begitu
Selalu berjarak
Tapi mengikat diam-diam
Kau tahu
Aku selalu menunggu
Tapi, biarlah
Tampaknya kau tak mau itu
Aku tahu
Kau takut ada apa-apa
Namun,
Perjalanan adalah prasasti
Yang menebar rasamu terhadapku
Kau takut
Aku juga
Wahai, terlihatkah sudah cacatku?
Melalui celah senyumku?
Melalui kerling mataku?
Atau:
Melalui kibas helai rambutku?
Yang menakutkanmu!
Biarlah
Tak apa
Mari kita kutuk "sang apa-apa"
Yang telah leluasa menyeruak
Mengacaukan pertemanan kita
Kau jauh
Aku juga
Biarlah tak terjadi apa-apa
Biarlah
Mengawang
Pendar gemintang
Yang kubentang
Jika nyata
Ragaku jauh
'Tuk kau rengkuh
Ragamu jauh
‘Tuk aku rengkuh
Namun jiwa kita
Yang mengelana
Menembus batas
Menepis ruang
Bahkan waktu...
Hanya ‘tuk
Mencumbu aroma lain
Hanya tuk rasa
Getar gelora
Hanya tuk tau
Antara kita ada "beda"
Dari yang biasa
Hadirku
Hadirmu
Tak bermaknakah???
Biarlah...
Karena
Tak ada hakku atasmu
Tak ada hakmu atasku
Kita hanya di-hak-i Tuhan
Biarlah...
Saling membelakangi
Tapi..
Saling menggenggam
Untuk aliri bahagiamu
Yang telah sedikit memiliki
Aku............ :)

Makassar, 24 Feb 2003
Cendrawasih
For Vee
 
 


***
Hanya tiga minggu setelah itu, bulan Februari 2003, tugas Alo di Makassar selesai. Syukurlah, dia tak perlu menulis lebih banyak lagi puisi sedih untuk kekasihnya yang jauh. Dengan setia, Verri siap siaga menjemput di bandara, dengan tak lupa memberikan serangkai bunga yang cantik untuk sang kekasih. (Wow, diam-diam, cowok cool ini romantis juga, ya!)
Pada bulan Maret 2003, ibunda Verri datang dari Brebes. Kesempatan ini tentu saja tak disia-siakan Verri untuk memperkenalkan gadis pilihannya kepada sang ibu. Saat mereka mengadakan janji bertemu, Verri langsung ‘menculik’ Alo ke rumahnya dan diperkenalkan kepada ibu dan keluarganya.
Ternyata, kekhawatiran Alo akan sikap ibu Verri tidaklah terjadi. Respons sang ibu sangat baik. Bahkan, hanya sehari sesudah itu, Verri mengajak ibu dan tantenya mengadakan kunjungan balasan ke rumah Alo. Dan, singkat cerita, tiga hari kemudian Verri membisikkan satu ‘bocoran’ paling manis kepada Alo, yang berasal dari ibunya sendiri: bahwa ibu Verri merestui dan bahkan meminta agar ‘peresmian’ hubungan kedua insan itu dipercepat…!
Rupanya, permintaan sang ibu yang sudah tak sabar melihat putra kesayangannya ini segera menikah, dapat direalisasikan dengan lebih nyata pada Minggu, 4 Mei 2003. Hari dan tanggal yang satu ini agaknya tak akan pernah terlupakan selamanya. Karena, tepat di hari ulang tahun Verri ini, si bujang dan keluarga besarnya datang secara resmi ke kediaman Alo untuk meminangnya sebagai istri.
Usul Alo semula agar peresmian ditunda hingga Desember agar lebih matang mempersiapkan segala sesuatunya, ditolak oleh ibu Verri dengan alasan terlalu lama. Akhirnya, berdasarkan kesepakatan bersama, diputuskanlah bahwa pernikahan akan dilaksanakan pada Minggu, 29 Juni 2003 di kediaman keluarga Alo di Pondok Gede, dengan upacara adat Palembang, sesuai asal ayahanda Alo. Kemudian, seminggu berikutnya, pada 6 Juli 2003, diadakan acara “ngunduh mantu”, yaitu Alo pindah ke rumah Verri di bilangan Ciputat sekalian diperkenalkan dengan syukuran sekadarnya bagi warga sekitar kompleks perumahannya yang belum kebagian diundang.
***
Begitulah. Cepat, kilat, padat, lancar, dan terkendali. Itulah ungkapan-ungkapan yang mungkin tepat untuk menggambarkan jalinan asmara sepasang Adam-Hawa abad milenium ini.
Lucu juga kalau dipikir. Perkenalan yang bermula dari e-mail dan SMS—dua teknologi canggih keluaran abad milenium—justru berubah menjadi pertautan yang amat spesial berkat ‘perjodohan ala tradisional’ oleh ibunda Alo yang ‘menyeriuskan’ hubungan mereka. Masih pula ditambah dengan restu ibunda Verri dan keinginannya agar ‘peresmian’ mereka dipercepat. Sungguh suatu perpaduan apik antara tradisi dan teknologi yang tentunya juga tak bisa dilepaskan dari kehendak Yang Kuasa. Dialah yang telah mengatur ini semua dari atas sana…!
Alhasil, Alo pun tak perlu menunda hari pernikahannya hingga Desember 2003—seperti keinginannya semula—untuk menggoreskan puisi indah ini bagi hatinya yang bahagia:

Hati

 
  Kulirik sekilas jemariku
Lumayan lentik
Masih cantik, memang
Bahkan kian cantik
Karena kini telah dihiasi
Sebuah cincin yang cantik juga
...
Aku tersenyum
Bahagia, tentunya
Cincin berbentuk hati...
Hati yang memiliki makna
Aku tahu...
Pemberinya memilihnya
Dengan menggunakan "hati"
Hati yang penuh kasih
Hati yang sesak cinta
Dia akan memberikannya
Pada seseorang yang sedang
Memasuki hatinya
Tahukah...?
Kini..., akulah pemilik hati itu
Kenapa hatinya diberikan kepadaku?
Akh, hanya dia yang tahu.
Yang jelas, aku bahagia
Karena aku telah memiliki hati itu
Cincin hati yang melingkari jari manisku
Hanyalah simbol
Namun,
Hati yang sesungguhnya adalah:
Hati yang akan menyelimuti keseharianku
Hati yang akan menjagaku
Hati yang akan mengingatkanku
Hati yang mengasihiku
Hati yang akan mencintaiku
Dengan apa adanya "aku"
Dan, aku yakin:
Hati itu akan membimbing hatiku
Untuk lebih "hidup"
Kini,
Aku tidak hanya melirik sekilas
Jemariku yang dihiasi cincin hati
Tapi...
Cincin hati itu kubelai
Dengan kasih sayang
Dengan senyum mendalam
Dengan mata berlinang
Linang kebahagiaan
Duhai,
Cincin hati itu telah memiliki "jiwa" kini...

Jakarta, Mei 2003
 
 

---
Rapsodi ini kuhaturkan
Buat si pemberi cincin hati
Semoga masih banyak hati
Yang akan kauberikan untukku...
Kelak, tak terbatas....



EPILOG
(Sedikit [Lagi] Catatan Kecil Dariku)


Where do I begin
To tell the story of how great their love can be
Their sweet love story that is deeper than the sea
The simple truth about their love they have told me
Where do I start…?

Penggalan lagu lama, “Love Story” (dengan sedikit polesan pada syairnya) ini berulang kali mengalun di kepalaku sebelum aku mulai mampu menjalinkan kata demi kata untuk menceritakan kembali kisah percintaan cyber yang berakhir tradisionally ini, sebagaimana telah mereka tuturkan kepadaku lewat telepon dan e-mail.
Bisa jadi, kesulitan ini dikarenakan aku merasa tak cukup mampu mengabadikan kisah itu menjadi a very special wedding gift sebagaimana yang aku janjikan. Bisa jadi juga, kesulitan itu dikarenakan kisah itu berjalan teramat smoothly, hampir tanpa riak besar yang menjadi salah satu syarat kelengkapan sebuah cerita: adanya klimaks. Tak ada cinta segitiga yang berbuntut kriminal, perselingkuhan, perjodohan paksa, perseteruan orangtua-anak, bahkan sekadar adu mulut kecil-kecilan.
However, ini memang bukan sebuah cerpen fiktif. Ini adalah sebuah prasasti kecil yang mudah-mudahan bisa selalu membawa Verri dan Alo menapaktilasi perjalanan-cinta mereka yang unik, kapan pun mereka inginkan. Ini adalah juga sebuah cermin bagi siapa saja yang sempat membacanya: betapa kepatuhan kepada orangtua dan kepasrahan kepada Yang Kuasa bisa membawa berkah yang teramat besar bagi yang menjalaninya.
Kita doakan saja, semoga cita-cita mereka untuk meneruskan tradisi ber-‘keluarga besar’ seperti kedua keluarga mereka, bisa segera terwujud. (Seperti dilaporkan: keluarga Verri termasuk dirinya merupakan 7 bersaudara dengan 5 laki-laki dan 2 perempuan, sedangkan keluarga Alo termasuk dirinya juga merupakan 7 bersaudara dengan 5 perempuan dan 2 laki-laki.)
Finally, allow me to say:
“Congratulation! May you both be the happiest couple forever!”

***


Jakarta, 3 Juni 2003

 

 
1