|
Nabi Muhammad
bersabda : sebaik - baik kalian ( ummat Islam ) adalah pada
zamanku, kemudian zaman setelah itu, kemudian zaman setelah
itu - Imron berkata, " Saya tidak tahu apakah disebutkan dua
atau tiga masa setelah itu. " Kemudian akan datang suatu kaum,
mereka pada bernadzar tapi tapi tidak dilaksanakan, mereka
saling berkhianat dan tidak bisa diberi kepercayaan, mereka
menjadi saksi tanpa diminta terlebih dahulu, dan kelihatan
pada diri mereka " As Siman "( kegemukan badan ).
A. Takhrij
Hadits ( Ijmali ) :
-Dikeluarkan
oleh Imam Bukhori, di kitab : Fadhoilu Ashabin nabi, Syahadat,
Al Iman dan Nadza.
-Dikeluarkan
oleh Imam Muslim, di kitab : Fadhoilu Shohabahy.
-Dikeluarkan
oleh Imam Tirmidzi, di kitab : Fitan.
-Dikeluarkan
Imam Nasa'i, di kitab : Al-Iman.
B. Ma"na
hadits :
Nabi
Muhammad Saw bersabda : sebaik - baik kalian ( ummat Islam
) adalah pada zamanku, kemudian zaman setelah itu, kemudian
zaman setelah itu - Imron berkata, " Saya tidak tahu apakah
disebutkan dua atau tiga masa setelah itu. " Kemudian akan
datang suatu kaum, mereka pada bernadzar tapi tapi tidak dilaksanakan,
mereka saling berkhianat dan tidak bisa diberi kepercayaan,
mereka menjadi saksi tanpa diminta terlebih dahulu, dan kelihatan
pada diri mereka " As Siman "( kegemukan badan ).
C. Zaman
Keemasan Ummat Islam
Harga diri
ummat Islam saat ini banyak yang terinjak injak, mereka sedang
tertindas dan posisi merekapun semakin menuju pada ketidak
jelasan
Salah satu
penyebab yang utama adalah semakin berkurangnya kepedulian
ummat Islam terhadap siroh Rosululloh Saw, serta minimnya
pemahaman tentang perjalanan hidup para sahabat, tabi'in dan
tabi'ut tabi'in yang lebih dikenal dengan sebutan "Generasi
Salafus Sholeh". Pada saat itu, persatuan ummat Islam betul
- betul ditakuti dan disegani oleh musuh - musuh Islam. Hingga
mampu menorehkan tinta emas pada sejarah ummat Islam.
Cukupkah
kita hanya merasa bangga dengan zaman keemasan tersebut. Apakah
generasi sekarang ini hanya bisa mngenang dan menceritakan
pada orang lain, bahwa ummat Islam pernah menguasai lebih
dari separo bumi ini ?Tapi kalau dalam diri kita sebagai ummat
Islam, tidak ada niatan untuk mengulang kembali zaman keemasan
tersebut, maka nilai keislaman kita masih diragukan. Pembaharuan
ghiroh ke Islaman dan semangat jihad fisabilillah, dengan
mencotoh Rosululloh Saw dalam setiap langkah kehidupannya
dan mengikuti jejak sahabat - sahabat beliau serta para tabi'in
ataupun Tabi'ut Tabi'in, insya Allah .... dengan melangkah
mengikuti jejak "Salafus Sholeh", kita akan ulangi kembali
"Zaman Keemasan" ummat Islam.
Allah berfirman
: QS. Al Ahzab : 21
Artinya :
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah saw itu suri
tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang orang yangmengharap
rohmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah."
Ayat diatas
dengan jelas menerangkan, bahwa Rosululloh Saw adalah uswah
hasanah bagi mereka yang benar - benar mengharapkan keridho'an
Allah dan kebahagiaan di hari akhir. Dan juga menerangkan
tentang muamalah Rosululloh dan sahabat sahabat beliau terhadap
saudara seiman, seaqidah, seperjuangan dan satu tujuan, serta
posisi mereka terhadap orang - orang kafir.
Maka julukan
yang diberikan oleh Rosul Saw pada mereka, dengan sebutan
"Khoirukum" yaitu umat yang terbaik, disebabkan oleh kondisi
mereka yang memang betul - betul berpegang teguh pada Al Qur'an
dan As Sunnah. Sebagai Nabi dan Rosul, beliau mendapatkan
izin dari Allah untuk bisa mengetahui hal ihwal ummat yang
telah lewat maupun yang akan datang. Dan dalam hadits yang
kita bahas ini, ada dua golongan yang diterangkan oleh Rosululloh
Saw. Golongan pertama yaitu orang - orang pada zaman beliau,
kemudian zaman setelah itu dan kemudian zaman setelahnya lagi,
yang disebut dengan " Golongan Ummat Terbaik ". Mereka itulah
yang menorehkan " Zaman Keemasan " bagi sejarah ummat Islam
di dunia ini. Dan golongan yang kedua, secara global Rosululloh
Saw menerangkan empat macam sifat mereka :
1. Bernadzar
tetapi tidak memenuhinya.
2. Berkhianat
dan tidak bisa dipercaya.
3. Memberikan
saksi sebelum diminta untuk bersaksi.
4. Mulai
tampak pada mereka orang-orang yang hanya memikirkan perut
hingga "kegemukan", yang diistilahkan oleh Rosulullah Saw
dengan sebutan "As Siman".
Sudahkah
empat kriteria diatas ada pada ummat saat ini ? Kalau memperhatikan
keadaan sekitar kita, orang - orang dizaman ini bukan hanya
memenuhi empat kriteria diatas, bahkan sudah beribu ribu sifat
kejelekan yang sedang menjadi penyakit ummat saat ini.
Kita sebagai
ummat Islam yang menginginkan terulangnya kembali " zaman
keemasan ", harus meninggalkan dan memerangi empat sifat diatas
serta mempelajari sekaligus mengamalkan sifat - sifat yang
ada pada golongan pertama, yaitu generasi para " Salafus Sholeh
"yang aqidahnya adalah " Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah "
D. Kriteria
Orang Yang Beraqidahkan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Sebagai
generasi yang hanya mengharapkan ridho Allah dalam mengarungi
kehidupan dunia ini, demi untuk " kebahagiaan " di akhirat
harus memenuhi kriteria kriteria berikut ini :
1. Lebih
mendahulukan hukum syar'i daripada hukum aqli.Allah berfirman
:
Yang artinya
: " Wahai orang - orang yang beriman, janganlah kamu mendahului
Allah dan RosulNya, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya
Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui ". Q.S. Al Hujurot
: 1
Suatu sifat
yang menerangkan bagaimana adab orang orang mu'min terhadap
Allah dan bermu'amalah pada Rosululloh Saw, dengan tidak menghukumi
segala sesuatu, sebelum mengambil hukum sebagaimana yang ditentukan
oleh Allah dan RosulNya.
Kita sebagai
umat Islam yang menginginkan terulangnya kembali " zaman keemasan
", harus meninggalkan dan mmerangi empat sifat diatas, serta
mempelajari sekaligus mengamalkan sifat-sifat yang ada pada
golongan pertama, yaitu para generasi " Salafus Sholeh ",
yang Aqidahnya adalah " AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH ".
Sifat yang
perlu dicontoh dari kepribadian Mu'adz bin Jabal ra, yang
tidak akan menggunakan ijtihad akalnya, kecuali jika benar
- benar hukum tersebut tidak ada dalam Al Qur"an dan As Sunnah.
2. Kriteria
yang kedua, Tidak mengkultuskan seorang imam atau pemimpin
dalam pengambilan apa apa yang diucapkannya, apalagi
menutupi dan membaik baikkan kemungkaran imam dan pemimpinnya.
Karena Imam bagi Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak lain
adalah Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana yang dikatakan oleh
syeikhul Islam Ibnu Taimiyah, " Bahwa orang yang berpegang
pada yang haq dan sunnah, tidak ada yang
diikuti dan
dicontoh kecuali Rosulullah Saw. Karena semua yang diucapkan
oleh beliau tidak berdasarkan hawa nafsu melainkan adalah
wahyu dari Allah. Hanya Rosululloh Saw sajalah yang wajib
dipercayai dalam ucapan dan perintahnya. Selain beliau tidak
ada yang berhak dalam posisi seperti ini. Bahkan setiap manusia
ada yang diambil sebagian dari perkataannya dan ditinggalkan
sebagian yang lain, kecuali Rosululloh Saw".
3. Mereka
menjadi penengah diantara golongan golongan yang bersengketa,
dan mengajak semuanya menuju pada persatuan ummat Islam,
dalam menjalankan perintah Allah dan RosulNya.
4. Mereka
tidak pernah mengkafirkan satu dengan yang lainnya, kecuali
kalau memang hakikat kekafiran tersebut dijelaskan oleh
Al Qur"an dan As Sunnah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Al
Bagdady Al Asfaroini :
"Orang -
orang Ahlus Sunnah tidak ada yang mengkafirkan antar sesamanya,
mereka sama - sama mendirikan dan menyerukan
yang HAQ dan Allah akan selalu menjaga yang HAQ dan orang
- orang yang menyerukannya ".
5. Selalu
memohon ampun pada Allah, serta menjaga keselamatan hati dan
ucapan mereka. Allah berfirman : Artinya : " Dan orang-orang
yang datang sesudah nereka ( Muhajirin dan Anshor ), mereka
berdo'a : " Ya Rob kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara
kami yang telah beriman terlebih dahulu dari kami, dan janganlah
engjau memberikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman, Ya Rob kami, sesungguhnya engkau maha
penyantun lagi maha penyayang ".
6. Menyeru
pada kebaikan dan mencegah hal - hal yang mungkar, sebagaimana
yang telah ditetapkan dalam Dien Islam dan Syari'atnya. Allah
berfirman : Artinya : " Dan hendaklah ada diantara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah
orang-orang yang beruntung ".( Qs.Alhasr : 10)
7. Kalau
menjumpai ayat - ayat Al Qur'an atau hadits Rosul yang berkenaan
dengan sifat - sifat Allah, mereka tidak menta'wilkan atau
menafsirkanny. Karena hal - hal yang berkenaan dengan sifat
Ilahiah, hanya dialah yang Maha Mengetahui, sedangkan kemampuan
akal manusia sangat terbatas untuk menjabarkan sesuatu diluar
jangkauan akal.
8. Mereka
yakin bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, diucapkan
dalam hati dan lisan serta merealisasikannya dalam perbuatan
sehari - hari.
9. Selalu
mengikuti siroh Rosululloh Saw dhohir dan bathin, juga jejak
para As Sabiqunal Awwalun dari Muhajirin dan Anshor. Rosululloh
Saw bersabda : yang artinya Hendaklah kalian berpegang teguh
dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat
petunjuk sesudahku, peganglah kuat kuat dan gigitlah dengan
gigi taring . (HR. Ahmad, Abu daud, Thirmidzi)
10. Selalu
menjaga sholat jama'ah dan tidak mengikuti para ahli bid'ah.
Terutama sekali untuk menjaga kemurnian ajaran Islam sesuai
dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rosul Saw. Allah berfirman
: Artinya : " Dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan
ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'. QS 2: 43
.
11. Mereka
mencintai orang - orang yang mencintai Allah dan RosulNya
dan memusuhi mereka yang ingkar pada Al Qur'an dan Sa Sunnah.
Allah berfirman : Artinya : " Dan orang-orang yang bersama
dengan dia ( Muhammad Rasulullah ) adalah keras terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. 48: 29)
Dalam hadits
Rosululloh Saw dikatakan : Artinya : " Kamu sekalian tidak
akan masuk syurga sehingga kamu beriman, dan kamu semua tidak
akan beriman sehingga kamu sekalian saling berkasih sayang
".(HR.Moslem)
12. Mereka
betul - betul yaqin akan adanya surga dan neraka, serta memahami
hal - hal yang menjadikan manusia masuk kedalam surga dan
yang menjerumuskan kedalam neraka. Sehingga berhati hati dalam
melangkah dan menjalani kehidupan di dunia yang sementara
ini.
13. Berjihad
fisabilillah denga harta dan jiwa mereka. Allah berfirman
:
Artinya :
" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta
berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang
yang memberikan pertolongan ( kepada orang-orang Muhajirin
), mereka itu satu sama lain lindung melindungi. (QS.8: 72)
14. Mereka
berusaha untuk tidak mempermasalahkan hal hal yang berkenaan
antara halal dan harom. Karena perbedaan antara halal dan
haram hanya terjadi setelah zaman Rosululloh Saw, terutama
sekali setelah para Ahi Fiqih di Iraq saling berbeda pendapat,
yaitu dari mereka yang bermadzhab Syafi'i dan Hanafi.
Dalam Istilah
Ahlus Salaf dikatakan : " Apabila Allah menghendaki kebaikan
bagi hamba hambaNya, maka akan dibukakan baginya pintu untuk
beramal dan ditutup baginya pintu perselisihan. Tapi jika
Allah menghendaki hambaNya suatu kejelekan, maka ditutup baginya
pintu beramal dan dibukakan untuknya pintu perselisihan ".
Semoga
kita termasuk hamba hamba Allah yang mendapatkan kehendakNya
untuk selalu dalam kebaikan ...... Amin Ya Robbal Alamin.
Wallhohu A'lam bi Asrori Ulumihi
Referensi
:
1. Mu'jamul
Mufahris lialfadhil Qur'anil Karim
2. Mu'jamul
Mufahris lialfadhil Hadits
3. Fathul
Bari Shohih Muslim
4. Ibnu Katsir,
tafsir Al Quran Al Adhim
5. Khosoisu
Ahlus Sunnah, Syeikh Ahmad Farid.
Abdul kholiq
hasyim
|